Pendidikan Karakter; Pembentukan Karakter Bangsa

0

Lingkungan pendidikan sangat berperan dalam membentuk karakter seorang anak. Kita mengenal ada tiga lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan keluarga (informal), lingkungan sekolah (formal) dan lingkungan masyarakat (non formal). Ketiga lingkungan tersebut akan berkontribusi terhadap karakteristik dan pola prilaku seseorang.

Berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini yang seringkali atau berulangkali kita tonton di televisi mengisyaratkan bahwa bangsa ini memang sedang “sakit” jiwa raganya. Berbagai persoalan bangsa kerapkali diselesaikan dengan kekerasan sehingga menimbulkan distorsi terhadap tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kehidupan bermasyarakat yang seharusnya harmoni, damai dan indah telah rusak karena berbagai gejolak di masyarakat yang disebabkan oleh perilaku-perilaku sebagian kecil anggota masyarakat. Peristiwa-peristiwa yang memilukan dan memprihatnkan pada dunia pendidikan yang terkait dengan tindakan kekerasan terhadap anak.

Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2009 kasus kekerasan terhadap anak mencapai 6.226 kasus, dan sebanyak 891 kasus terjadi di lingkungan sekolah, yang mana 11,3 persen dilakukan oleh guru. Kasus-kasus tersebut berupa kekerasan fisik, pelecehan seksual dan bullying (http://www.suarapembaruan.com/News/2009).

Gambaran perilaku yang keras hadir juga pada dunia pendidikan. Sebagaimana yang dilansir oleh media massa bahwa tindakan kekerasan terhadap anak didik sudah sangat memprihatinkan. Kasus-kasus kekerasan baik yang dilakukan oleh guru terhadap anak didik maupun terhadap sesama anak didik. Kejadian ini tentu menjadi pertanyaan kita bahwa “masih adakah tempat yang sungguh aman dan steril dari perilaku-perilaku jahat tersebut bagi anak-anak didik kita?”.

Helen Keller (1990) berkata “Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih”. Kata bijak Helen ini barangkali benar bahwa sesuatu yang menjadi impian atau mimpi besar akan diraih dengan susah dan penuh perjuangan. Ibarat seorang mahasiswa yangingin menyelesaikan studinya membutuhkan perjuangan yang kuat. Sehingga memerlkan energi yang besar pula.

Realita menunjukkan, di dalam kehidupan sehari-hari masih saja ditemukan orang cerdas tetapi kurang arif, orang kaya tetapi tidak dermawan, orang berkuasa tetapi tidak amanah, tokoh masyarakat tetapi tidak memberi teladan, pemimpin tetapi tidak berpihak pada kepentingan bersama (rakyat banyak), saling menjatuhkan, pencurian benda-benda kuno yang menyimpan sejarah, pengeboman, dan tindakan-tindakan anarkis-destruktif lain yang sangat merugikan kelanjutan kehidupan bangsa. Untuk itulah peran pendidikan sangat penting, sebagaimana tersirat dan tersurat dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 2 dikatakan bahwa: Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa. Watak serta peradaban bangsa yang bermartabat adalah karakter bangsa Indonesia yang diidealkan oleh Undang-Undang Sisdiknas.

Pendidikan Karakter
Karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik dan nyata berkehidupan baik) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (Desain Induk: Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, RI 2010).

Thomas Lickona (1992) memakai konsep karakter baik. Konsep mengenai karakter baik (good character) yang dipopulerkan Thomas Lickona ini merujuk pada konsep yang dikemukakan oleh Aristoteles sebagai berikut ― … the life of right conduct—right conduct in relation to other persons and in relation to oneself atau kehidupan berperilaku baik/penuh kebajikan, yakni berperilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta) dan terhadap diri sendiri.

Kehidupan yang penuh kebajikan (the virtuous life) sendiri oleh Lickona (1992) dibagi dalam dua kategori, yakni kebajikan terhadap diri sendiri (self-oriented virtuous) seperti pengendalian diri (self control) dan kesabaran (moderation); dan kebajikan terhadap orang lain (other-oriented virtuous), seperti kesediaan berbagi (generousity) dan merasakan kebaikan (compassion).

Lickona (2004) menyatakan bahwa secara substantif terdapat tiga unjuk perilaku (operatives values, values in action) yang satu sama lain saling berkaitan, yakni moral knowing, moral feeling, and moral behavior. Lickona (2004) menegaskan lebih lanjut bahwa karakter yang baik atau good charakter terdiri atas proses psikologis knowing the good, desiring the good, and doing the good—habit of the mind, habit of the heart, and habit of action.

Bertitik tolak dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.
Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

Mengapa Perlu Pendidikan Karakter
Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025).

Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.”

Terkait dengan upaya mewujudkan pendidikan karakter sebagaimana yang diamanatkan dalam RPJPN, sesungguhnya hal yang dimaksud itu sudah tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional –UUSPN).

Dengan demikian, RPJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter (2010): pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik & mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor).

Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.

Saat ini budaya dan karakter bangsa menjadi sorotan tajam masyarakat, baik yang tertuang dalam tulisan di berbagai media cetak, dialog-dialog di kalangan pemuka masyarakat, masyarakat kampus maupun luar kampus, serta pembicaraan di media elektronik bahkan pada masyarakat awam. Bahasan dalam tulisan di media cetak dan pembicaraan di berbagai forum menyoroti berbagai persoalan yang terkait korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian antar kelompok (baik antar desa, etnis, bahkan agama), pola hidup hedonisme bahkan praktek politik kotor oleh wakil rakyat.

Aristoteles menyatakan bahwa seseorang yang baik tidak hanya mempunyai satu kebajikan, sikap dan tindak tanduk orang tersebut adalah panduan moralita dalam segala hal (Hersh, et.al., 2009). Kebajikan itu harus terpancar dari satunya ucapan, sikap, dan perbuatan atau jika meminjam konsep Thomas Lickona (2004) adalah harmoninya antara moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pengertian bahwa seseorang yang berkarakter itu mempunyai pikiran yang baik (thinking the good), memiliki perasaan yang baik (feeling the good), dan juga berperilaku baik (acting the good).

Pentingnya pendidikan karakter itu juga ditegaskan Alexis de Toqueville (dalam Branson, 1998:2) “…each new generation is a new people that must acquire the knowledge, learn the skills, and develop the dispositions or traits of private and public character that undergird a constitutional democracy. Those dispositions must be fostered and nurtured by word and study and by the power of example. Democracy is not a ―machine that would go of itself,‖ but must be consciously reproduced, one generation after another”.

Uraian sebagaimana dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi penting pada generasi muda Indonesia agar masa depan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter baik di mana perbuatannya selaras dengan ucapan dan sikapnya. Keselasaran itu tampak dari adanya ucapan dan sikap yang baik, yang diwujudkan dalam perilaku yang baik pula.

Karakter yang diharapkan
Untuk mencapai karakter bangsa yang diharapkan, diperlukan individu-individu yang memiliki karakter. Oleh karena itu, dalam upaya pembangunan karakter bangsa diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun karakter individu (warga negara). Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni: olah hati, olah pikir, olahraga, olah rasa dan karsa.

Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif dan inovatif. Olahraga berkenaan dengan proes persepsi, kesiapan, peniruan dan manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai sportivitas. Olah rasa dan karsa berkenaan dengan kemauan dan kreativitas yang tercermin dalam kepedulian, citra dan penciptaan kebaruan.

Ada empat karakter individu yang dijiwai oleh sila-sila Pancasila pada masing-masing bagian tersebut. Yakni, pertama karakter yang bersumber dari olah hati, antara lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan, bertanggungjawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban dan berjiwa patriotik.

Kedua, karakter yang bersumber dari olah pikir antara lain cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi Ipteks dan reflektif.

Ketiga, karakter yang bersumber dari olahraga/kinestetika antara lain bersih dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria dan gigih.

Keempat, karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia), menutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotis), kerja keras dan dinamis.

Nilai-nilai karakter bangsa yang dipaparkan di atas didukung oleh Michele Borba (2008) dengan menggunakan istilah kecerdasan moral dan karakter. Tujuh kebajikan utama dalam membangun kecerdasan moral dan karakter bangsa yang kuat: (1) empati: memahami dan merasakan kesedihan/ penderitaan orang lain; (2) nurani: merasakan dan menerapkan cara berprilaku yang manusiawi; (3) kontrol diri: mengendalikan pikiran dan tindakan agar dapat menahan dorongan dari dalam atau mencegah dorongan dari luar sehingga dapat bertindak benar; (4) rasa hormat: menghargai orang lain dengan berlaku baik dan sopan; (5) kebaikan hati: menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan dan perasaan orang lain; (6) toleransi: menghormati martabat dan menghargai hak semua orang meskipun keyakinan berbeda antara satu dan yang lain; dan (7) keadilan: berpikir terbuka, tidak berat sebelah, bertindak adil/ berpihak pada yang benar.

Dengan demikian, nilai-nilai karakter bangsa yang perlu ditransformasikan kepada peserta didik sedini mungkin ada 9, sebagai berikut.
1. Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Jujur yaitu memiliki sikap dan sifat yang luhur sebagai warga negara dan merupakan suatu keniscayaan. Kejujuran merupakan kunci bagi terciptanya keselarasan dan keharmonisan hubungan antar warga negara dengan negara, memiliki misi dalam mengentaskan kemiskinan dan dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.
3. Adil adalah menempatkan sesuatu secara proporsional. Tujuan yang baik tidak akan diwujudkan dengan cara-cara yang tidak adil. Penggunaan cara-cara yang tidak adil adalah bentuk pelanggaran hak asasi dari orang yang diperlakukan tidak adil.
4. Rasa hormat dan tanggung jawab terhadap sesama warga negara terutama dalam konteks adanya pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan/agama, dan ideologi politik (komitmen bersatu),turut bertanggung jawab menjaga keharmonisan hubungan antar etnis serta keteraturan dan ketertiban negara yang berdiri di atas dasar pluralitas tersebut (Bhineka Tunggal Ika).
5. Sikap kritis terhadap kenyataan empiris (realitas sosial, budaya, dan politik) maupun terhadap kenyataan supra empiris atau metafisik (agama, mitologi, kepercayaan). Sikap kritis juga harus ditunjukkan pada diri sendiri.
6. Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap pemahaman terhadap pendapat yang berbeda.
7. Sikap terbuka didasarkan atas kesadaran akan pluralis- me dan keterbatasan diri yang akan melahirkan kemam- puan dalam menahan diri, tidak secepatnya menjatuh- kan penilaian atau pilihan.
8. Rasional yaitu memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan secara bebas dan logis.Ini merupakan hal yang harus dilakukan. Keputusan-keputusan yang di-ambil secara rasional akan melahirkan sikap yang tegas dan pemikiran yang logis.
9. Cerdas dan arif yakni memiliki Inteligensi jamak. Inteligensi merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan dan dapat menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dalam situasi yang nyata. Intelegensi seseorang bukan hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan lebih tepat diukur melalui cara bagaimana orang itu memecahkan persoalan dalam kehidupan yang nyata secara cerdas dan bijak (arif).

Selanjutnya bagaimana cara mentransformasikan nilai-nilai karakter bangsa. Hakikatnya siswa dilatih untuk memfungsikan secara efektif anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang dibawa sejak lahir yaitu: (1) panca indera; (2) naluri; (3) akal: rasional, imajinasi, kreativitas; dan (4) hati nurani. Melalui pembelajaran pembentukan karakter (latihan dan pembiasan diri) untuk melakukan penanjakan keempat fungsi tersebut.

Tugas kita semua
Pendidikan karakter perlu mendapat perhatian semua pihak agar proses sosialisasi dan internalisasinya akan berjalan lebih baik. Para dosen sebagai bagian masyarakat yang lebih banyak berinteraksi dengan para mahasiswa diharapkan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap pembangunan dan perkembangan karakter bangsa agar kelak bangsa ini akan memiliki pemimpin yang berkarakter.

Kata bijak yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua: “tanamkanlah buah pikiran dan prilaku baik maka kita akan menuai tindakan yang baik, tanamkan tindakan dan kita akan menuai kebiasaan, tanamkan kebiasaan dan kita akan menuai karakter, tanamkan karakter dan kita akan menuai kemenangan dan kebahagiaan” (diadaptasi dari Charles Reade dalam Michele Borba,2008).

Dr. Clarry Sada, M.Pd
Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia

Share.

Leave A Reply