Menantikan Karya Guru

0

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan bentuk-bentuk karya ilmiah guru lainnya sangat dinantikan masyarakat, dan terutama sangat diperlukan untuk diri pribadi guru yang bersangkutan. Ada beberapa kondisi nyata di kalangan guru dan dunia pendidikan di Kalbar umumnya, mengapa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menjadi sangat penting dikuasai/ diketahui.

Pertama, hanya 10 dari 5.000 guru SLTA di Kalbar bergolongan IVB. Menurut Aleksius Akim, Kadisdikbud Provinsi Kalbar dalam Dialog dengan Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar tanggal 18 Februari 2015, ada 5.000 guru SLTA golongan IVA yang tertahan kepangkatannya di Golongan IVB. Di Kalbar, baru 10 orang guru yang golongan IVB: 6 orang di kota Pontianak dan 4 di luar kota Pontianak.

Kondisi ini jauh tertinggal dibanding beberapa daerah lain di Jawa. Di Level Provinsi Kalbar kita misalnya kalah dengan level kabupaten di Jawa. Misalnya di Kabupaten Bekasi, jumlah guru golongan IVA ada 334.184 orang; golongan IVB ada 2.318 orang, golongan IVC ada 48 orang, dan di IVD ada 15 orang (lihat https://alisadikinwear.wordpress.com).

Ini tentu sebuah tantangan (yang harus dimenangkan) guru-guru di Kalbar. Bagi guru yang sudah IV/a maka ada persyaratan khusus untuk naik pangkat ke IV/b yaitu Sebab utama mandegnya pangkat guru di golongan IV karena ada persyaratan harus mengumpulkan angka kredit dari kegiatan pengembangan profesi sebesar 12 poin. Kegiatan pengembangan profesi bisa berupa nulis karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, membuat karya teknologi tepat guna atau karya seni. Khusus karya tulis ilmiah, yang diwajibkan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Kedua, dihapusnya sistem PLPG; diganti sistem Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan (PPGJ). Sampai tanggal 24 Februari 2015, calon peserta sertifikasi guru tahun 2015 di Kota Pontianak ada 935 calon (lihat http://sergur.kemdiknas.go.id). Dalam buku panduan Sertifikasi Guru Melalui Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Tahun 2015, Buku 1 Pedoman Penetapan Peserta (2015), pada kegiatan PPGJ ada kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) dengan proses sebagai berikut.
1) PKM dilaksanakan di sekolah tempat guru bertugas.
2) Beban belajar PKM 14 SKS dengan durasi waktu 2 bulan, dengan ekivalen waktu 10 jam per hari.
3) Supervisi dilakukan sebanyak 2 (dua) kali oleh guru inti atau pengawas/kepala sekolah yang ditunjuk.
4) Peserta PKM wajib melaksanakan dan membuat laporan PTK/PTBK sesuai dengan format dan waktu yang ditentukan dan disahkan oleh kepala sekolah dan dipublikasikan di perpustakaan/ruang baca sekolah.
5) Uji kinerja dilaksanakan di akhir PKM oleh Asesor LPTK Penyelenggara dan guru inti (supervisor setempat), peserta wajib menyerahkan perangkat pembelajaran (RPP/RPPBK) yang akan dipraktikkan pada saat uji kinerja.
6) Peserta yang belum lulus ujian kinerja, diberikan kesempatan menempuh ujian ulang maksimum 2 (dua) kali.
7) Uji kinerja dilaksanakan di sekolah cluster dan penetapannya disesuaikan dengan kondisi geografis setempat dan/atau disesuaikan dengan KKG dan MGMP.
8) Ujian Tulis Nasional (UTN) dilaksanakan secara on-line dan untuk daerah tertentu secara off-line.

Peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang lulus uji kinerja dan UTN akan memperoleh sertifikat pendidik, sedangkan peserta yang belum lulus, diberi kesempatan mengulang sebanyak 2 (dua) kali untuk ujian yang belum memenuhi syarat kelulusan. Bagi peserta yang tidak lulus pada ujian ulang kedua, peserta dikembalikan ke dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota untuk memperoleh pembinaan dan dapat diusulkan mengikuti PKM tahun berikutnya.

Ketiga, peluang kreativitas-leverage lembaga. Sampai akhir tahun 2013 di seluruh Provinsi Kalimantan Barat terdapat 71.048 orang guru, dari TK, SD, SMP, SLTA dengan spesifikasi: (1). Sudah sertifikasi: 24.920 orang (35,07%), yakni PNS 22.854 orang ; non PNS 1.566 orang); (2). Belum sertifikasi: 46.128 orang; (3).Kualifikasi S1/D4: 38.742 orang (54,53%); (4). Belum S1/D4: 32.306 orang. Data selengkapnya dapat dibaca dalam Buletin Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Edisi I, Volume I Tahun 2014.

Dengan masih banyaknya guru yang belum ber-sertifikasi serta di jadikannya PTK sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikasi, maka in imenjadi peluang para guru yang sudah bisa melakukan PTK untuk memfasilitasi sekolah/ guru lainnya. Tentu ini menjadi satu peluang yang sangat strategis untuk berkreativitas secara pribadi. Secara lembaga, jika misalnya Yayasan Pancur Kasih atau Persekolahan Asisi mempunyai TIM yang mumpuni untuk memfasilitasi PTK, maka sudah pasti ini akan menaikkan leverage lembaga.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Undang-Undang No 14 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru merupakan profesi yang dituntut untuk menguasai seperangkat kompetensi dan kualifikasi tertentu. Kualifikasi tersebut diatur dalam jenjang kepangkatan/golongan. Untuk sampai pada pangkat/golongan tertentu diperlukan kredit poin. Ketentuan teknis tentang kredit poin tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Ada dua jenis karya guru yang diberi kredit poin tertentu sebagai syarat usul kenaikan jabatan atau golongan/pangkat. Pertama, Karya Teknologi Tepat Guna; dan kedua, Karya Tulis Ilmiah (KTI).

Karya Teknologi Tepat Guna (non KTI) bisa berupa alat pendidikan/ praktikum, alat pengolah yang bermanfaat untuk masyarakat, dan media pembelajaran berbasis komputer yang berupa film dan animasi flash untuk satu semester. Karya ini harus dibuatkan laporan pembuatan dan penggunaannya disertai dengan foto pembuatan dan penggunaan. Kalau produk komputer bisa dikirim CDnya.

Karya Tulis Ilmiah (KTI) ada tujuh macam dengan kredit poin tersendiri sebagai berikut.
No Jenis KTI Jenis Publikasi Kredit Poin
1. Hasil penelitian, pengkajian, survey, valuasi 1. Buku yang diedarkan secara nasional 12,5
2. Karya/artikel ilmiah yang dimuat di media cetak yang diakui Depdiknas 4,0
3. Buku yang tidak diedarkan secara nasional (cukup di provinsi/kab/kota) 4,0
4. Makalah (termasuk PTK) 4,0
2. Tinjauan atau gagasan sendiri dalam bidang pendidikan 1. Buku yang diedarkan secara nasional 8,0
2. Karya/artikel ilmiah yang dimuat di media cetak yang diakui Depdiknas 4,0
3. Buku yang tidak diedarkan secara nasional 7,0
4. Makalah 3,5
3. Tulisan ilmiah popular yang disebarkan Dimuat di media massa 2,0
4. Tinjauan, gagasan, ulasan ilmiah yang disampaikan sebagai prasaran dalam pertemuan Makalah dalam pertemuan ilmiah 2,5
5. Buku pelajaran 1. Buku bertaraf internasional 5
2. Buku bertaraf provinsi 3
6. Diktat Diktat yang digunakan di sekolah 1
7. Karya terjemahan Buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan 2,5

Untuk kenaikan pangkat/golongan dalam tiap tingkatannya (misalnya dari IVA ke IVB, cukup 12 kredit poin. Nah, bagaimana cara mendapatkan 12 poin dengan sekali melakukan PTK? Mudah. Buat satu PTK (4 poin). Hasil PTK tersebut dibuat dalam bentuk (1). Presentasi di dalam sebuah seminar (2,5 poin), (2). diterbitkan di media massa (2 poin), (3).diterbitkan dalam jurnal ilmiah (3,5 poin). Intinya, PTK adalah karya guru yang utama.

Khusus tentang penerbitan buku, dengan mudah hal ini bisa dilakukan sesuai dengan standar buku. Salah satu kriteria buku yang standar adalah terdaftar dalam International Standar Book Number (ISBN) atau ada Katalog Dalam Terbitan (KTD) yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.
Jika belum cukup sumber dana untuk mencetak dalam jumlah banyak (misalnya 1.000 eks), kini tersedia penerbit-penerbit yang mau menerbitkan buku sesuai jumlah pesanan (biasanya minimal 20 eksemplar)—atau yang terkenal dengan sebutan book on deman (BoD).

Guru bisa memanfaatkan peluang ini untuk menerbitkan bahan ajarnya, seperti diktat, atau kumpulan artikel, lembar kerja siswa (latihan soal-soal), dalam bentuk buku yang menarik dan ada ISBN-nya.
Artinya kalau membuat satu PTK (4 kredit poin), lalu PTK itu diterbitkan dalam bentuk buku (4 kredit poin), ditambah menerbitkan buku pelajaran (3 kredit poin), ditambah menulis ilmiah popular dan dimuat di koran lokal (2 kredit poin), maka sudah terpenuhi 12 kredit poin untuk naik pangkat/golongan.

Prinsip PTK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada dasarnya sebuah upaya perbaikan proses pembelajaran sesegera mungkin ketika menghadapi persoalan di dalam kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian perbaikan berdasarkan hasil refleksi oleh pelaku tindakan. Prosedurnya berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yaitu merencanakan (plan), melakukan tindakan (action), mengamati (observation), merefleksikan (reflective).

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang dari istilah penelitian tindakan (action research). Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka.
Penelitian tindakan dilakukan pada hampir semua bidang ilmu: pendidikan, kedokteran, manajemen, dan industry. Bila penelitian tindakan yang berkaitan pada bidang pendidikan dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas, maka penelitian tindakan tindakan ini disebut PTK.

Tujuan PTK intinya adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah.

Siklus yang akan dilakukan dapat dilakukan satu putaran, dua putaran, dan seterusnya. Setelah siklus pertama dilalui maka dimulai lagi dengan siklus kedua yang dimulai dari rencana kedua sebagai perbaikan dari rencana pertama sampai pada tahapan reflective. Jika siklus kedua telah dilalui maka direncanakan perbaikan kembali untuk siklus ketiga. Pada akhir siklus ketiga diharapkan permasalahan yang dihadapi dapat diatasi dan dengan hasil yang lebih efektif.

Prinsip pelaksanaan PTK ada tujuh, sebagai berikut.
1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang diterapkan, seyogyanya tidak berdampak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara cukup menyakinkan.
4. Masalah penelitian yang diteliti cukup merisaukan.
5. Guru harus bersifat konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
6. Permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.
7. PTK dilaksanakan demi perbaikan dan/atau peningkatan praktek pembelajaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya “melekat” pada penunaian misi profesional kependidikan yang diemban oleh guru.
PTK mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan jenis penelitian lainnya. Pertama, an inquiry on practice from within. Artinya dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati dalam melaksanakan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas. Kedua, a collaborative effort between school teachers and teacher education. Peneliti melakukan kolaboratif dengan guru yang kelasnya dijadikan kancah PTK. Ketiga, a reflective practice, made public. Guru yang melakukan kolaborasi dalam PTK mengemban peran ganda: sebagai praktisi yang melaksanakan tugasnya sehari-hari dan sekaligus secara sistematis meneliti praksisnya sendiri.

Mari mulai
Memulai selalu sulit; tetapi jika sudah dimulai, pasti selalu ada jalan keluar. Belum meratanya pengetahuan dan keterampilan tentang PTK pasti tidak akan menghambat para guru untuk mulai melakukan PTK. Mulai saja, minta dampingan teman, pihak yang punya pengalaman atau pengetahuan. Banyak sumber, bahan untuk menjadi subyek PTK di sekitar kita.

Tentu saja dukungan pemerintah penting. Jika pemerintah kabupaten/kota memang serius memperhatikan karir guru, tentunya pasti bisa mencari cara bagaimana agar para guru aktif membuat karya ilmiah melalui penelitian tindakan kelas.
Edi V.Petebang, pegiat pendidikan non formal, anggota Dewan Pendidikan Kalbar (epetebang@yahoo.com)

Share.

Leave A Reply