Menakar Kualitas Kurikulum 2013

0

Oleh Edi V.Petebang
Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kalbar, Ketua Sandu Institut

Mulai tahun pelajaran 2017-2018 seluruh sekolah di Indonesia, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai SLTA menerapkan Kurikulum 2013. Tahun-tahun sebelumnya, kurikulum yang biasa disebut Kutilas atau K13 tersebut bersifat optional, sesuai kemampuan sekolah. Namun di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muadjir Effendy, K13 diterapkan secara merata.

Ketegasan Pemerintah tersebut patut diapresiasi. Karena jika sekolah dalam satu Negara mempunya kurikulum yang berbeda-beda, maka akan sangat sulit melakukan penilaian dan mengukur dampaknya bagi peserta didik. Seperti kita ketahui, sebelum tahun pelajaran 2017/2018 hanya beberapa sekolah, bahkan hanya beberapa kelas yang menerapkan K13.

Tahun pelajaran 2017/2018 pun yang wajib menerapan K13 baru pada siswa kelas 1 SD, kelas VII SLTP dan kelas IX SLTA. Artinya jika mau menilai dampak secara menyeluruh dari K13 perlu waktu 6 tahun untuk SD; 3 tahun untuk SLTP dan SLTA (masing-masing satu angkatan sekolah dari awal masuk hingga tamat).

Kurikulum 2013 resmi diperkenalkan pemerintah pada akhir tahun 2013. K13 merupakan hasil revisi dari kurikulum sebelumnya yakni kurikulum KTSP 2006. Diklaim Mendikbud kala itu, Mohammad Nuh, ada tiga keunggulan K13 dibanding KTSP 2006 (www.kompas.com, 11/3/2013). Pertama, jika menurut kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka pada Kurikulum 2013 pola pikir tersebut dibalik.

Kedua, K13 memiliki pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. K13 memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kreativitas yang menjadi andalan.Penekanan pada penguatan karakter.

Ketiga, pada kurikulum 2013 didisain berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA.
Tahun 2014 menjadi masa uji coba kurikulum 2013 di beberapa sekolah tertentu dan hasilnya memiliki beberapa sisi positif namun juga memiliki beberapa kelemahan atau sisi negatif. Jika kurikulum 2006 lebih menekankan pada aspek kognitif maka kurikulum 2013 lebih menyeimbangkan antara aspek kognitif, psikomotor dan afektif.
Kendala yang muncul dalam penerapan kurikulum 2013 adalah sulitnya guru dalam menilai aspek afektif siswa.

Hal ini karena kurikulum 2013 tidak dilengkapi standar baku dalam mengukur aspek tersebut. Ditambah lagi kurikulum 2013 yang terlalu menyita waktu seorang guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran; membuat kurikulum 2013 tidak terlalu efektif dalam penerapannya.

Dari sejumlah studi, dapat dirinci sejumlah dampak positif dan negatif K13 (lihat diskusi masyakat di situs https://www.kaskus.co.id.

Dampak positif pertama, kompetensi lulusan: Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Analisanya bahwa dalam draft kurikulum 2013, nampak jelas bahwa dari tiga domain pendidikan yang ada, secara tegas terlihat adanya penekanan perhatian terhadap peningkatan proporsi 2 domain yang selama ini kurang berkembang dalam diri siswa yaitu domain afektif dan domain psikomotorik. Analisa ini sekaligus diperkuat pada cara pengetikan domain kognitif dalam draft bahan uji publik kurikulum 2013, yang sengaja diletakkan dibelakan kedua domain ini. Ini berarti bahwa kurikulum 2013 secara serius mengupayakan perubahan keseimbangan proporsi pengembangan ketiga domain tersebut dalam pembelajaran.
Dampak positif kedua, kedudukan mata pelajaran: kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi matapelajaran dikembangkan dari kompetensi.

Dampak positif ketiga, jumlah matapelajaran dari 12 menjadi 10. Dalam hal ini mata pelajaran TIK, Muatan Lokal, dan “Pengembangan Diri” diintegrasikan ke dalam mata pelajaran dan kegiatan lain. Sehingga tidak lagi ditemukan di struktur kurikulum 2013, sementara itu dimunculkan satu mata pelajaran baru dengan nama Prakarya.

Dampak positif keempat adalah menjadi media semua mata pelajaran. Hal ini menjelaskan bahwa mata pelajaran TIK sesungguhnya tidak “dilenyapkan” seperti kekhawatiran beberapa pihak, namun diintegrasikan pada setiap pelajaran pada saat setiap guru menyajikan pembelajarannya. Kendala yang bisa muncul disini adalah faktor rendahnya kemampuan guru dalam memanfaatkan ICT dan kekurangtersediaannya fasilitas ICT di sekolah.

Dampak positif kelima, mata pelajaran Muatan lokal, bisa terintegrasi ke dalam mata pelajaran Penjasorkes, Seni budaya, dan Prakarya dan Budidaya.

Dampak positif keenam, IPA dan IPS masing-masing tetap diajarkan secara terpadu. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science danintegrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pembangunan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alam dan sosial.
Dampak positif ketujuh,Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Dampak positif kedelapan, bahasa Inggris diajarkan untuk membentuk keterampilan berbahasa.
Dampak positif kesembilan, pengembangan diri terintegrasi pada setiap matapelajaran dan ekstrakurikuler.
Dampak positif kesepuluh, jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran. Jumlah jam pelajaran per minggu yang tadinya 32 jam/minggu menjadi 38 jam/minggu. Hal ini diartikan bahwa beberapa mata pelajaran ditambahkan masing-masing 1 (satu) jam pelajaran perminggunya meliputi Pendidikan Agama menjadi 3 jam, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi 3 jam, Bahasa Indonesia menjadi 5 jam, Matematika menjadi 5 jam, Seni Budaya menjadi 3 jam, dan Penjasorkes menjadi 3 jam. Hal ini ditujukan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas dalam memberikan proporsi yang seimbang antara kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pembelajaran.

Ada dampak positif, pasti ada dampak negative. Adapun dampak negatif penerapan K13 adalah sebagai berikut.
1. Kurikulum dibuat tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam
2. Memberatkan siswa, karena jam pelajaran ditambah padahal siswa mempunyai batas maksimal waktu konsentrasi dalam belajar
3. Ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak, tematik lebih cocok diterapkan di kelas dasar, tidak memperhatikan konteks sosiologis keindonesiaan.
4. Jumlah jam yang terlalu banyak
5. Kendala tematik di kelas lanjut, ciri khas ke Indonesiaan direduksi dalam mulok (hanya beberapa daerah), afektif dan psikomotor tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai, dan justru struktur kurikulum menimbulkan potensi masalah yang besar. terutama dengan dihapuskannya matpel TIK, dan pelajaran lainnya dalam kurikulum 2013.
6. Penyiapan guru membutuhkan waktu yang lama. Tidak hanya sekali atau dua kali pelatihan saja.
7. Dalam perubahan kurikulum dengan langkah pemerintah yg tergesa-gesa ini , harusnya tidak memberatkan dan meresahkan masyarakat terkait implementasi di lapangan nanti.
8. Terforsirnya waktu siswa disekolah untuk belajar dan mengikuti ekstrakurikuler2 yang diwajibkan dalam ketentuan Kurikulum 2013
9. Dalam kurikulum 2013, guru tidak lagi diwajibkan untuk membuat sillabus atau bahan ajar. Ini berbeda dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sebelumnya diterapkan. guru hanya akan seperti robot karena semua sudah disiapkan pemerintah sehingga dapat menumpulkan kreativitas para guru
10. Guru seakan terpaku pada isi buku panduan tersebut karena apa yang akan diajarkan hingga rancangan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sudah diatur di dalamnya. Dengan segala sesuatunya sudah disiapkan, guru hanya tinggal melaksanakan dan seolah hanya menjalankan tugas sesuai pakem tertentu.

Living Kurikulum
Belum tuntas K13 dipraktekkan, muncul wacana perubahan Kurikulum 2013 (K13) menjadi living kurikulum. Wacana ini hangat diperbincangkan di kalangan akademisi dan praktisi pendidian maupun masyarakat. Perubahan itu tentu saja akan membawa dampak positif dan negative. Dikutip dari situs www.rijal09.com, berikut adalah dampak positif dan negatif perubahan kurikulum 2013 menjadi living kurikulum.

Dampak positifnya adalah, pertama,lebih menyempurnakan kekurangan yang ada pada kurikulum 2013. Living kurikulum adalah hasil refleksi dari penerapan kurikulum 2013, belajar dari kekurangan yang ada pada kurikulum 2013 maka kementrian pendidikan akan lebih diminimalisir permasalahan kurikulum 2013 melalui penerapan living kurikulum.

Dampak positif kedua adalah perubahan kurikulum 2013 menjadi living kurikulum adalah tuntutan konsep pendidikan. Kurikulum memang selayaknya harus selalu berubah, hal ini karena kurikulum harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik pada waktu itu dan beberapa tahun ke depan. Pengembangan kurikulum memang memiliki dimensi fleksibiltas dan relevansi yang harus terus mengikuti konsep pendidikan yang dibutuhkan. Jadi living kurikulum adalah pembaharuan yang memang dibutuhkan oleh stackholder dalam ruang lingkup pendidikan.

Dampak positif ketiga, living kurikulum lebih humanis dan kaya akan dimensi pengembangan kemampuan peserta didik. Salah satu kelebihan living kurikulum berdasarkan konsepnya adalah living kurikulum memiliki kelebihan pada konsepnya yang lebih bersahabat bagi guru dan peserta didik dan memiliki beberapa elemen yang memberikan stimulasi bagi peserta didik untuk lebih mengeksplorasi kemampuannya.

Dampak negatifnya ada empat. Pertama, membutuhkan biaya besar dalam pembaharuan perangkat pembelajaran. Sama halnya ketika kurikulum 2013 mulai diterapkan, pemerintah menganggarkan angka triliunan dalam pembaharuan perangkat kurikulum pada waktu itu. Mulai dari buku kurikulum 2013, pelatihan guru dengan jumlah dana yang dibutuhkan tidak sedikit, serta pembaharuan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan modul kurikulm 2013. Maka hal yang sama akan terjadi jika kurikulum 2013 kembali berganti dengan kurikulum yang baru

Dampak negatif kedua, guru harus kembali menyesuaikan konsep baru dalam mendidik siswa. Satu hal pasti ketika kurikulum 2013 berganti menjadi living kurikulum adalah guru harus siap-siap memperbaharui konsep dalam mendidik siswa, guru juga sudah pasti harus digenjot untuk mengikuti sosialisasi dari metode mengajar dan cara penerapan dari kurikulum 2013.

Dampak negative ketiga, pola pembelajaran kemungkinan akan terasa bersekat-sekat bagi siswa. Penerapan kurikulum 2013 yang baru saja dirasakan oleh siswa dengan konsep pembalajaran baru dan siswa mulai beradaptasi dengan konsep pembelajaran tersebut, secara frontal diganti dengan konsep yang berbeda jika living kurikulum diterapkan. Walaupun konsep pembelajarannya tak sepenuhnya baru namun sudah dipastikan akan memiliki perbedaan. Jika menganilasa hal tersebut, kemungkinan siswa akan menggangap pola pembelajaran yang diterapkan oleh gurunya seperti sekat-sekat yang berbda dengan pola pembelajaran yang sebelumnya.

Dampak negatif keempat, sebagian daerah pelosok akan terlambat dalam menerapkan living kurikulum. Jika living kurikulum benar diterapkan pemerintah maka sudah dapat dipastikan beberapa daerah akan lambat dalam penerapan kurikulum tersebut hal ini disebabkan oleh kondisi geografis sekolah pelosok susah untuk dicapai ditambah kurangnya sarana dalam sosialisasi living kurikulum padahal pekaksanaan ujian nasional berstandar nasional, sudah pasti pemilihan soal ujian nasional sedikit banyaknya akan berlandaskan pada living kurikulum hal ini mejadi tidak adil bagi siswa.

Kritik KTSP
Kita semua berharap K13 membawa dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Jangan sampai terulang kelemahan-kelemahan dalam KTSP. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri.
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Kelebihan KTSP meliputi lima aspek. Pertama, mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Kedua, KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Ketiga, KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Keempat, berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian. Kelima, guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.

Sedangkan kelemahannya sebagai berikut. Pertama, kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.
Kedua, kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.
Ketiga, masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya, penyusunannya, maupun praktiknya di lapangan. 4) Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untuk mendapatkan tunjangan profesi.

Share.

Leave A Reply