Membangun Pendidikan Kalbar Berbasis Revolusi Pikiran dan Mental

0

Agar pendidikan di Kalimantan Barat lebih berkualitas lagi, maka diperlukan pembangunan berbasis revolusi pikiran dan mental atau sikap. Revolusi pikiran dan mental dalam semua aspek atau pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan; baik pemerintah, tenaga pendidikan, siswa, orang tua dan masyarakat.

Pendapat tersebut disampaikan Dr. Aswandi, Wakil Rektor I Universitas Tanjungpura dalam seminar Rapat Kordinasi Dewan Pendidikan se-Kalbar (2-3/12/2015) di Pontianak. Berikut ini adalah paparan Aswandi yang juga Direktur The Aswandi Foundation selengkapnya.

Dari berbagai karakteristik Kalimantan Barat, maka provinsi ini adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi besar menjadi suatu daerah yang berkemajuan, berperadaban dan bermartabat atau mentalitas pembangunan. Namun faktanya, dalam bidang pendidikan misalnya, indeks pembangunan pendidikan provinsi ini disalip oleh provinsi Kalimantan Tengah sehingga selalu berada di bawah provinsi Kalimantan lainnya. Provinsi ini harus bekerja keras dan cerdas mengejar ketinggalannya dari provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Mahatma Ghandi dan para pakar perubahan perilaku lainnya menyatakan bahwa setiap perubahan sikap mental selalu diawali oleh “Perubahan Pola Pikir atau Mindset yang bersumber dari Perubahan Sistem Keyakinan”. Ghandi mengingatkan sebuah ungkapan; “Perhatikan pikiranmu karena ia akan menjadi kata-katamu, perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perilakumu, perhatikan perilakumu karena ia akan menjadi kebiasaanmu dan perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karakter atau mentalitasmu”.

Harun Yahya (2002) dalam bukunya “Ever Thought about The Truth”, memberi tambahan penjelasan dengan sebuah pertanyaan utama, yakni; “Apakah dunia luar benar-benar ada, atau ia hanya merupakan sesuatu yang diproduksi otak kita?

Apa yang dipersepsi sebagai dunia luar sebenarnya merupakan serial dari sinyal-sinyal elektrik. Kita sebenarnya bukan melihat dengan mata, namun dengan pusat penglihatan, dan ini bertentangan dengan yang diketahui selama ini. Jadi, otak tak pernah melihat objek itu sendiri, melain sinyal-sinyal elektrik dari objek. Definisi kita terhadap realitas sering dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya dan pengakuan orang lain tentang objek tersebut.

Demikian pula indera manusia lainnya dalam memahami realitas. Semua objek yang kita lihat, sentuh dan raba, hanyalah sinyal-sinyal yang diproduksi dan diinterprestasi dalam otak kita. Dunia luar yang diperkenalkan kepada kita oleh indera kita adalah sekumpulan kopi berbentuk sinyal elektrik. Kita tidak dapat mencapai objek yang sesungguhnya melalui indera kita, jadi kita tak akan pernah bisa yakin apakah gambaran dunia yang terbentuk di dalam otak benar-benar merupakan refleksi dari dunia yang sesungguhnya.

Cara kita mempersepsi dunia luar didasari hanya oleh persepsi dan interpretasi otak kita yang unik. Jadi penglihatan tergantung pada siapa yang mempersepsinya, dan objek bukanlah apa yang kita lihat, sentuh dan dengar dari objek itu. Semua sensasi yang datang dari salah satu indera kita bukan bagian dari dunia luar, tetapi terjadi di dalam pikiran kita dimana sensasi itu diciptakan.

Dunia yang kita ketahui sebenarnya adalah dunia di dalam pikiran kita dimana ia didesain, diberi suara dan warna atau dengan kata lain diciptakan. Jadi kita hidup di dalam dunia ini yang ada di kepala kita, dimana kita tidak dapat melangkah sedikitpun lebih jauh dan kita keliru dalam menganggap ini adalah dunia luar yang sebenarnya. Ini bukan interpretasi filosofis yang baru, ini adalah bukti nyata dari bidang ilmu pengetahuan”.

Stephen Hawking (2010) dalam bukunya ”The Grand Design” mengatakan bahwa ”Tiada konsep realitas (kenyataan/wujud) yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita”.

John Kehoe (2012) dalam bukunya ”Mind Power: menyatakan bahwa pikiran menciptakan realitas. Segala peristiwa dipengaruhi dari apa yang kita bayangkan, kita visualisasikan, kita hasratkan, kita inginkan atau kita takutkan, serta mengapa dan bagaimana gambar yang ditetapkan dalam pikiran bisa dibuat menjadi kenyataan. Kemanapun kita pergi, apapun yang kita lakukan, pikiran-pikiran kita menciptakan realitas kita.

Peter F. Drucker, bapak manajemen modern mengatakan bahwa ”Masa Depan adalah Milik Mereka yang Memikirkannya hari ini”. Beliau ingin menegaskan kembali bahwa apa yang kita yakini, itulah yang kita dapatkan.

Ibrahim El Fiky menjelaskan hukum pikiran, dimana seseorang mendapat informasi dari apa yang ada dalam pikirannya, ia tidak mampu memahami realitas yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Dan dalam satu hari kita melahirkan 60.

Goethe mengatakan, ”Semua pikiran yang bijaksana, telah dipikirkan ribuan kali, tetapi untuk membuatnya benar-benar menjadi pikiran kita, maka kita harus memikirkannya berulang-ulang dengan jujur, sampai pemikiran itu mengakar dalam pengalaman pribadi kita.

Pikiran kita sebagian besar (90%-99%) masih tertidur nyeyak. Pendidikan belum menyekolahkan pikiran, demikian kata Gatdner. Pikiran kitalah yang akan menjadi arah dan kendali dari perilaku diri kita. Tumbuhkan kesadaran ini, agar selalu menjadi “pemilik, pengendali dan pengemudi” pikiran-pikiran kita. Dengan pikiran kita mampu membangun impian-impian besar bagi masa depan kehidupan kita.

Pertanyaannya, sudahkah memiliki percaya diri (self confidence) yang tinggi untuk membangun dan mengembangkan impian-impian besar hidup ke depan? Yakinkah kita mampu mencapai impian-impian besar tersebut? Ini lagi-lagi sangat tergantung dari cara berpikir yang dikembangkan. Tidak ada sesuatu yang mudah, tidak juga instant. Semua harus melalui proses yang kadang penuh dengan tantangan, hambatan yang melelahkan. Tidak ada sesuatu yang hebat dicapai melalui cara yang mudah. Diperlukan keyakinan diri dan semangat juang yang kuat & tangguh, untuk sampai pada terwujudnya impian-impian besar tersebut.
Tuhan telah memberikan kemampuan yang luar biasa kepada setiap manusia. Masalahnya adalah, sadarkah bahwa diri kita memiliki kemampuan yang luar biasa, dan tahukah kita kemana hidup kita ke depan? Diperlukan kemauan dan kesadaran untuk bekerja cerdas, bekerja keras, menyiapkan segala kemampuan yang kita miliki, dan terus sambil belajar tentang berbagai hal yang belum kita miliki, sehingga kita terus berkembang dan berubah seiring dengan meningkatnya kemampuan yang kita bangun.

Revolusi mental
Apa yang dimaksud dengan revolusi mental? John P. Kotter dan Dan S. Cohen (2014) dalam bukunya “The Heart of Change” mengatakan bahwa jantung perubahan bukan berada dalam pikiran, melainkan pada “Sikap atau Perasaan”.

Dikatakan, “Orang mengubah apa yang mereka lakukan bukan karena mereka diberi analisis yang mengubah pikiran mereka, namun lebih karena mereka ditunjukkan sebuah kebenaran yang mempengaruhi perasaan mereka”.

Tantangan tunggal terbesar dalam setiap perubahan adalah mengubah sikap. Kunci dan pergeseran sikap tersebut tampak jelas dalam transformasi yang sukses, tidak terlalu banyak kaitannya dengan analisis dan pertimbangan, namun lebih cendrung terkait dengan melihat dan merasakan.

Perasaan itu mengubah sikap kita. Orang dapat bergerak melewati setiap fase atau tahapan perubahan kendati mereka sering kali dihadapkan pada berbagai kesulitan yang sangat besar.

Secara singkat ia mengatakan tiga kata kunci; “melihat (yang dan dengan benar), merasakan, dan perubahan”.

Untuk mencapai sesuatu yang besar, kadang kita harus memulainya dari hal-hal kecil. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan tekun. Kadang kehidupan yang besar dirangkai dari hal-hal kecil tadi, yang terus menerus kita lakukan dan kembangkan secara konsisten, maka yang kecil itu akan membuat perubahan yang besar. Lagi-lagi tidak ada sesuatu yang mudah untuk mencapai hal terbaik.

Hidup ini ibarat kunci kombinasi, tugas kita adalah menemukan angka-angka yang tepat, dalam urutan yang tepat, sehingga dapat membuka pintu sukses apapun yang kita inginkan. Tidak ada formula khusus, yang ada hanya usaha keras, bersungguh-sungguh, tak kenal lelah, dan terus bekerja.

Kita memiliki cadangan potensi yang besar yang belum termanfaatkan di dalam diri kita. Tugas kita adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi tersebut. Harta kita yang paling berharga adalah keinginan untuk mau bertahan lebih lama dari pada orang lain, ketika menghadapi kesulitan di depan saudara.

Bagaimana agar kita semua menjadi para pemenang dalam kehidupan? “Para pemenang tidak melakukan hal-hal berbeda, Mereka hanya melakukan hal-hal biasa, dengan cara yang berbeda”. Dengan demikian tugas kita adalah mencari cara yang memungkinkan kita menjadi pemenang. Cara yang kita tempuh tidak harus seragam, yang terpenting adalah “ending” dari proses itu adalah sukses, positif dan konstruktif. Pembicaraan para pemenang selalu memiliki tujuan.

Biasanya kelompok orang-orang sukses selalu berbicara di seputar kegiatan yang sedang dan akan mereka lakukan untuk mewujudkan gagasannya. Para pemenang tidak pernah menyalahkan orang lain atas keadaan mereka, mereka selalu menatap ke depan dan mengejar hal terbaik. Mereka bertanggungjawab atas posisi mereka, dan tahu serta sadar ke arah mana mereka akan menuju.

Untuk mewujudkan impian-impian tersebut, disarankan agar menjalani hidup dengan antusiasme, keceriaan, ketulusan, kejujuran, ketekunan, kreativitas, dinamis, dan produktif. Itu hanya beberapa kekayaan dalam gudang sikap positif. Sikap merupakan pembeda antara pemenang dan pecundang, antara emas dan loyang.
Yang perlu kita sadari selanjutnya adalah bahwa “Sikap kita akan menentukan ketinggian jelajah hidup kita” Kita sadari bahwa dengan titik start yang sama, lulusan diploma, sarjana, magister atau doctor, kadang-kadang setelah sama-sama menyusuri liku kehidupan, yang satu lebih berhasil dari pada yang lainnya. Persoalan apa yang membedakan, pada hal mereka berangkat dari kondisi yang sama? Sekali lagi dari ‘SIKAP’ positif kita, disamping ada takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Iya, Tuhan penentu segalanya.

Strategi pendidikan dan pembelajaran
Anies Baswedan, Mendikbud RI (2015-2016) mengatakan “fokus kebijakan pendidikan diarahkan pada penguatan insan atau perilaku (siswa, guru, kepala sekolah, orang tua siswa dan pimpinan institusi pendidikan) yang mandiri dan berkepribadian”.

Para psikolog berkumpul di Fransisco University membahas satu tema “Mengapa Merubah Kebiasaan Buruk itu Sulit”. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi, memuat tiga unsur penting dalam pembentukan perilaku baik, yakni: (1) komitmen, janji dan niat; akan lebih baik jika komitmen tersebut dituliskan, dan setiap waktu diucapkan dan pemasangan pin, “Saya Anti Narkotika”. Jika perlu pembentukan satgas anti narkoba di setiap sekolah atau unit kerja; (2) modifikasi lingkungan; Berkali-kali bapak Mendikbud Anies Baswedan berpesan agar sekolah menjadi sebuah taman, dimana peserta didik berangkat ke sekolah dengan senang hati dan pulang dengan berat hati.

Membangun kultur sekolah sebagai taman yang nyaman dan menyenangkan dimana komunikasi antara guru dengan siswanya berjalan efektif, menciptakan strategi pembelajaran dialogis agar setiap siswa memahami alasan mengapa mereka harus berpikir positif dan bersikap atau berprilaku baik; (3) monitoring dan evaluasi (Monev) perubahan perilaku yang diinginkan/direncanakan.

Akan lebih efektif, jika monev tersebut dilakukan secara formatif, yakni; setiap hari atau semakin dini guru mencatat atau mendeteksi segala permasalahan dan penyimpangan perilaku (mis behavior) siswanya, kemudian setiap minggu atau setiap dua minggu atau setiap satu bulan sekali penyimpangan perilaku siswa tersebut dibahas bersama-sama guru, dipimpin oleh kepala sekolah untuk dicarikan solusinya. Semakin cepat monev itu dilakukan, maka akan semakin baik perilaku seseorang. Secara jujur harus diakui, selama ini kita telah lalai melakukan monev perubahan perilaku sehingga kenakalan dan kebodohan peserta didik itu terjadi.

Diantara strategi pendidikan dan pembelajaran dalam membentuk karakter, antara lain; (1) memberi pemahaman yang benar tentang pendidikan kepribadian; (2) pembiasaan; dan (3) contoh atau tauladan; (4) pembelajaran secara integral dan dialogis.

Ketidakpahaman dan ketidakjelasan konseptual tentang pendidikan mental dan sejenisnya yang kemudian berakibat pada kebijakan di tingkat lokal yang mengatasnamakan pendidikan mental tersebut tidak tetap sasaran dan tidak terintegrasi, serta mengalami persoalan mekanisme evaluasi.

Viktor Frankl, “Jika Anda meminta seseorang tersenyum,maka orang tersebut harus mendapat penjelasan atau paham mengapa mereka harus tersenyum. Dengan perkataan lain,Jika Anda mengatakan jangan dekati narkotika, mereka harus paham mengapa mereka tidak boleh mendekati, mengkonsumsi, menyimpan dan memperdagangkan narkotika.

Kebiasaan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, ia mengambil porsi yang cukup besar dalam usaha manusia. Zig Ziglar (2001) dalam bukunya “Something Else to Smile” mengingatkan “Perhatikan pikiranmu, kata-katamu, perbuatanmu, kebiasaanmu, karena ia akan menjadi kepribadianmu”. Ibn Miskawaih (1998) dalam bukunya “Tahdzib Al-Akhlaq” menegaskan bahwa “kepribadian manusia terletak pada fikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”.

Para pakar neurofisiologi menyimpulkan temuan mereka, bahwa otak mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk menerima pikiran atau perilaku yang berulang-ulang dan menyambungkannya ke pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan di bawah sadar. Semakin sering mengulangi pikiran dan tindakan yang konstruktif, pikiran atau tindakan itu akan menjadi semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis”, demikian dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya “Adversity Quotient”.

Charles Duhigg (2014) dalam bukunya “The Power of Habit” mengutip hasil penelitian seorang peneliti Duke University pada tahun 2006 menemukan bahwa “40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan melainkan kebiasaan”.

Imanuddin dalam artikelnya mengatakan, “Sebagian besar dari kehidupan kita dikendalikan oleh alam bawah sadar yang didalamnya memuat banyak kebiasaan-kebiasaan kita. Misalnya, ketika kita berbicara, pada menit-menit pertama dikendalikan oleh alam sadar.

Ketika kebiasaan muncul, otak berhenti turut serta penuh dalam pengambilan keputusan. Otak berhenti bekerja keras atau mengalihkan fokus ke tugas-tugas lain. Satu kebiasaan baik dilakukan secara konsisten, maka kebiasaan atau kepribadian lain ikut terbentuk. Misalnya, membiasakan diri bersikap jujur, maka kepribadian atau karakter lain seperti tanggungjawab ikut terbentuk.

Sejak 1936 Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pembiasaan dan keteladanan adalah peralatan penting dalam pendidikan terutama bagi anak usia dini.

Abdullah Nashih Ulwan (1999) dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad fil Islam” mengatakan “keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil atau membekas dalam mempersiapkan dan membentuk kepribadian, moral, spritual dan etos sosial anak”.

Anak belajar dari apa yang dilihat dan didengar dari lingkungannya. Anak melihat orang tuanya berdusta, ia tak mungkin belajar jujur. Melihat orang tuanya berkhianat, ia tak mungkin belajar amanah. Melihat orang tuanya selalu memperturutkan hawa nafsu, ia tak mungkin belajar keutamaan.

Mendengar orang tuanya berkata kufur, caci-maki, dan celaan, ia tak mungkin belajar bertutur santun dan manis. Melihat kedua orang tuanya marah dan bertegang urat syaraf, ia tak mungkin belajar sabar, dan melihat kedua orang tuanya bersikap keras dan bengis, ia tak mungkin belajar kasih sayang”. Orang tua, guru, dosen dan para pendidik lainnya tidak memiliki hak moral terhadap anak didiknya sebelum ia menjadi contoh bagi mereka.

Pendidikan dan pembelajaran berbasis nilai, berbasis moral dan sejenisnya dirancang secara terintegrasi dengan pendidikan dan pembelajaran lainnya. Ia tidak dapat berdiri sendiri sebagai mata pelajaran.
Keberhasilan pendidikan dan pembelajaran berbasis kepribadian lebih ditentukan oleh strategi pembelajaran, disamping ditentukan oleh subject matter dan komponen lain pembelajaran, dalam arti bagaimana peserta didik mengkonstruksi informasi ka-kepribadian-an ke dalam otak dan pikirannya, selain subject matter ke-kepribadian-an tersebut.

Informasi, baik berupa nilai, keyakinan dan pengalaman yang masuk ke alam sadar dan alam bawah sadar membentuk mindset yang kemudian sangat mempengaruhi pikiran seseorang, selanjutnya akan mempengaruhi perilaku. Jadi perilaku kita adalah pikiran kita.***

Dr. Aswandi, Dosen FKIP Untan, Ketua The Aswandi Foundation

Share.

Leave A Reply