Implementasi dan Pengembangan Pendidikan Inklusif sebagai Solusi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Di Kalimantan Barat

0

Digital natives lahir sebagai generasi yang mengalami pengaruh baik dan buruk dari pesatnya perkembangan teknologi. Ketidaksiapan generasi terdahulunya akan dampak pesatnya perkembangan teknologi mengakibatkan generasi ini sangat berpotensi menjadi korban teknologi. Sementara sistem pendidikan nasional tak cukup mampu mengantisipasi perkembangan kebutuhan generasi terkini.

Kalimantan Barat memiliki potensi SDM yang hebat.  Namun, akibat rendahnya keterampilan literasi, daya analitis dan berpikir kritis (critical thinking), Kalbar masih mengalami ketertinggalan dalam hal kualitas sumber daya manusia.  Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain karena terbatasnya wawasan dan keterampilan para stake holder pendidikan dalam mencermati dan mengantisipasi dinamisnya kebutuhan inovasi pendidikan yang harus dilakukan untuk merespon kebutuhan yang tercipta di masyarakat akibat tuntutan perkembangan jaman yang begitu disruptif.

Terkait dengan ketertinggalan SDM, Kalbar perlu segera melakukan terobosan di dunia pendidikan.  Salah satu langkah inovatif adalah melalui pengembangan sekolah inklusif yang menerapkan Individualized Education Plan (IEP), Differentiated Learning (DL) dan Multiple Assessment Methods (MAM) untuk melayani beragam kebutuhan daya dan gaya belajar murid sebagai strategi optimasi keberhasilan sistem pembelajaran. Namun demikian, skala cakupan layanan yang terbatas memberi efek perubahan yang terbatas juga di masyarakat.

Kalbar membutuhkan strategi kebijakan yang bisa menggerakkan putera/i terbaik daerah untuk berkontribusi mengabdikan tenaga, pemikiran dan karya mereka dalam menciptakan terobosan-terobosan spektakuler dan inovatif yang dapat mempercepat peningkatan kualitas SDM. Kalbar membutuhkan karya-karya intelektual dan SDM berkelas internasional tanpa harus kehilangan ciri khas budaya dan tradisinya. Pemerataan pembangunan SDM perlu dimulai dengan memperbaiki wajah pendidikan di Kalbar, salah satunya melalui implementasi pendidikan inklusif dalam sistem pendidikan kita.

Pendidikan inklusif bukan tentang disabilitas tapi terkait dengan budaya sekolah yang terbuka dan menghargai perbedaan dan mengenali kebutuhan individual.  Pendidikan inklusif bukanlah nama lain dari pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, melainkan pendidikan yang melibatkan identifikasi dan minimasi kendala belajar dan partisipasi serta memaksimalkan sumber-sumber pendukungnya (Corbett, 2001). Pendidikan inklusif menurut Puri & Abraham (2014) adalah tentang attitude – a value and belief system, not a set of actions.  Maka ketika sistem ini diadopsi oleh sebuah sekolah, ia akan mempengaruhi semua keputusan di sekolah tersebut. Sebaliknya, pendidikan khusus tersegregasi menciptakan kelompok murid kelas bawah yang bersifat permanen dimana mereka mendapat pesan yang kuat bahwa mereka bukan bagian dari kelompok murid-murid reguler dan tidak akan fit in dalam kelompok tersebut.  Sistem pendidikan ini pada faktanya merupakan sebuah sistem yang tidak peka dan secara sistematis, walau mungkin tidak diniatkan, menghancurkan self-esteem dan self-worth murid-murid yang yang berbeda dengan kelompok kebanyakan.

Karakteristik sistem pendidikan inklusi meliputi:
1. Menerima dan mengangkat fakta bahwa mayoritas ABK dapat diakomodir dalam sistem pendidikan untuk anak-anak reguler.
2. Ada pengakuan nyata bahwa pendidikan bagi ABK merupakan tanggung jawab sistem pendidikan nasional.
3. Tersedianya kepemimpinan dan sumber daya untuk membuat pengajaran dan kurikula jadi lebih fleksibel yang merespon keberagaman kebutuhan individu dan kondisi lingkungan sebagai budaya lokal dan komunitas.
4. Mendorong keterkaitan yang lebih erat antara pendidikan khusus dan reguler, sistem formal dan non-formal, serta sektor sekolah dan komunitas agar menguntungkan semua anak.
5. Adanya pengakuan bahwa pelatihan guru sebagai sebuah proses yang sangat interaktif, berkelanjutan, dan supportive untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merespon keberagaman gaya dan kebutuhan belajar murid yang lebih besar.
6. Mendorong keterlibatan orangtua dan komunitas, termasuk pembagian kendali dan tanggung jawab masing-masing.

Kebijakan pemerintah tentang pendidikan inklusif yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 32 dan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 memberikan peluang dan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan disekolah reguler mulai dari Pendidikan Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas/Kejuruan yang disertai dengan solusi alternatif bagi penyempurnaan kebijakan tersebut beserta implementasinya.  Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Pendidikan inklusif bertujuan untuk (1) memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, (2) mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.

Peran penting sekolah inklusif dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik dapat diwujudkan melalui penerapan Social Emotional Learning sebagai model pembelajaran bagi para peserta didik untuk membangun keterampilan inter- dan intrapersonal sebagai bagian dari pembangunan dan penguatan pendidikan karakter mereka.  Berlandaskan konsep pemikiran tersebut, sekolah inklusif hadir sebagai sebuah lembaga yang menawarkan alternatif pendidikan karakter bagi anak-anak di Kalimantan Barat  yang meliputi pendidikan untuk anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah.  Dalam rangka mengakomodir berbagai kebutuhan gaya dan daya belajar anak, sekolah inklusif harus dirancang untuk mengakomodir kebutuhaan pendidikan anak-anak reguler dan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) secara bersama-sama dalam atmosfir keberagaman.  Perlu dilakukan terobosan kebijakan untuk dapat mengimplementasikan sistem pendidikan inklusif berdasar konsep yang utuh dalam sebuah pusat pendidikan inklusif yang dapat diduplikasi secara meluas di nusantara.  Dengan mempertimbangkan aspek percepatan pemerataan pembangunan SDM di Kalbar, kota Pontianak adalah lokasi yang tepat untuk dipilih sebagai lokasi percontohan implementasi terobosan kebijakan tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem pendidikan inklusi merupakan strategi yang sangat produktif untuk mengimplementasikan amanah UUD 1945 tentang kesetaraan dan keadilan mendapatan pendidikan bagi seluruh warga negara.  Masih minimnya wawasan para stakeholder pendidikan dan masyarakat di Kalbar tentang pendidikan inklusif beserta implementasinya menyebabkan minimnya ketersediaan akses dan fasilitas pendidikan inklusi serta guru-guru berkualifikasi khusus yang dapat mengakomodir dan melayani kebutuhan siswa-siswi untuk mengembangkan karakter unggul mereka, terutama anak-anak berkebutuhan khusus yang justru akan kontraproduktif jika diarahkan untuk dilayani di SLB atau sekolah umum.   Untuk itu perlu segera diterbitkan seperangkat regulasi tentang pendidikan inklusi serta dibangun Pusat Pendidikan Inklusif Terpadu dalam kerangka kepentingan riset dan pengembangan sistem pendidikan inklusif untuk meningkatkan standar kualitas guru dengan kualifikasi yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan lembaga-lembaga yang melayani pendidikan inklusif.

Perlu dilakukan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, praktisi pendidikan serta masyarakat untuk mempercepat peningkatan kualitas SDM Kalbar melalui pengembangan implementasi pendidikan inklusif.

Fitri Darsini, S.TP, M.Pd
Ketua Komisi PAUD DIKMAS Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar

Share.

Leave A Reply