Digitalisasi Sekolah: Antara Tuntutan dan Kesiapan

0

Perkembangan teknologi informasi luar biasa pesat; dunia kini menjadi serba digital. Kita kini berada dalam era revolusi industri ke-4 atau popular dengan sebutan Industri 4.0. Dunia pendidikan, agar mampu memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja dan mampu bersaing secara global, mau tidak mau harus mengikuti dan mengadopdi teknologi. Siapkan dunia pendidikan kita?

Pemerintah telah meluncurkan Roadmap Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri ke-4. Internet of Things (IoT) jadi salah satu andalan peta jalan yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian. Seperti dimat dalam laman https://inet.detik.com, aspirasi besar dalam Making Indonesia 4.0 adalah menjanjikan Indonesia masuk ke dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Berdasarkan Making Indonesia 4.0, terdapat lima sektor manufaktur yang akan dijadikan pionir, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.

Dalam mengimplementasikan peta jalan tersebut di manufaktur, maka akan sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi, di antaranya IoT, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi.

IoT merujuk pada jaringan perangkat fisik, kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang ditanami perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas yang memungkinkan untuk terhubung dengan jaringan internet maupun mengumpulkan dan bertukar data.

Teguh Prasetya, Founder IoT Forum sendiri menyatakan IoT sudah menjadi Internet of Everything dalam berbagai lini perekonomian di Indonesia. Ia bahkan memperkirakan pada 2025 nanti, sekitar 70% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan disokong oleh industry berbasis IoT.

“Market IoT Indonesia pada 2022 diperkirakan Rp 444 triliun, dan pada 2025 nanti menjadi Rp 1.620 triliun. Sampai saat ini ada 250 perusahaan berekosistem IoT di Indonesia yang tumbuh dan berinvestasi disana. Kita tertinggal di 2G sampai 4G, jangan sampai tertinggal di IoT karena pasarnya masih luas,” kata Teguh seperti dimuat dalam situs https://inet.detik.com.

Digitalisasi Pendidikan
Untuk menjawab kebutuhan pasar global dalam industri 4.0, maka pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membuat terobosan baru. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, meluncurkan program digitalisasi sekolah di salah satu pulau terluar Indonesia, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada Rabu (18/9/2019). Peluncuran program ini ditandai dengan pemberian bantuan sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepada sekolah dan gawai atau tablet kepada siswa.
Dalam siaran persnya, Mendikbud mengatakan program digitalisasi sekolah ini untuk menyiapkan sumber daya manusia menyongsong revolusi industri 4.0. Terutama SDM di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) agar mendapatkan fasilitas-fasilitas pembangunan termasuk di bidang pendidikan.

“Sejak dua tahun yang lalu, kita mulai merevitalisasi jaringan atau portal yang dimiliki Kemendikbud atau jaringan cyber terutama untuk portal bahan ajar yang sekarang disebut Rumah Belajar. Setelah 1,5 tahun lebih didandani, hari ini lah kita menyatakan siap untuk mulai merealisasikan program penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara besar-besaran yang dimulai dari wilayah pinggiran dan launchingnya di Kabupaten Natuna,” terang Mendikbud.

Mendikbud berharap Kabupaten Natuna yang menjadi perdana peluncuran Program Digitalisasi Sekolah dapat menjadi contoh yang baik bagi sekolah-sekolah di kabupaten dan provinsi lainnya.
”Mulai sekarang saya mohon kepada guru untuk mulai mempelajari dan menguasai materi yang tersedia di portal Kemendikbud, khususnya yang ada di dalam platform digital yaitu Rumah Belajar. Itu gratis tidak perlu membayar. Kita harapkan platform ini tidak sekedar untuk menyediakan bahan belajar, tetapi bisa jadi tempat berinteraksi antara guru dengan siswa, guru dengan guru, siswa dengan siswa bahkan jika bisa dengan pihak yang lain, seperti Pak Bupati juga bisa terlibat disitu, Kapolres dan yang lainnya bisa memanfaatkan Rumah Belajar ini untuk berinteraksi dengan para siswa,” ungkap Mendikbud.

Pada tahun 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memberikan bantuan sarana pembelajaran TIK dan tablet melalui anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja kepada 6.004 sekolah dan 692.212 siswa. Sedangkan melalui BOS Afirmasi untuk 30.277 sekolah dan 1.061.233 siswa.

“Sekarang baru sekitar 17 juta siswa dan 36 ribu sekolah. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa meningkatkan kebutuhan yang berlipat, sehingga saya harapkan dua sampai tiga tahun ke depan sekolah-sekolah kita, betul-betul sudah menggunakan platform digital untuk proses belajar mengajar dan mendukung proses belajar yang konvensional. Sekali lagi dengan digulirkannya platform digital ini bukan berarti proses belajar konvensional tidak berlaku tetapi tetap penting. Karena tatap muka antara siswa dengan guru masih menjadi cara yang paling baik. Cara yang paling tepat untuk mendidik anak terutama dalam rangka membentuk karakter siswa,” kata Mendikbud.

Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi mengatakan Program Digitalisasi Sekolah merupakan terobosan baru yang memanfaatkan perkembangan TIK untuk mempermudah proses belajar mengajar. “Guru dan siswa makin mudah mengakses bahan ajar. Guru, siswa kepala sekolah dan unsur pendidikan juga bisa mengaksesnya. Selain itu, komunitas guru bisa bekerja sama membuat materi bahan ajar digital, membuat tes ujian harian secara bersama-sama dalam jaringan offline maupun online,” pungkas Didik Suhardi.

Tidak hapus tatap muka
Program digitalisasi sekolah yang baru saja diluncurkan, tidak akan menghilangkan proses pembelajaran dengan tatap muka. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa di kelas tetap penting dan tidak tergantikan, dan akan diperkaya dengan konten-konten digital.

“Program digitalisasi sekolah ini, bukan berarti proses belajar mengajar dengan cara konvensional tidak berlaku, justru tetap penting. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa masih menjadi cara yang paling tepat, terutama dalam pembentukan karakter siswa,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat meluncurkan program digitalisasi sekolah di Gedung Srindit Ranai Kabupaten Natuna Kepulauan Riau, Rabu (18/9/2019).

Peran guru di era revolusi industri 4.0, menurut Mendikbud, semakin penting. “Guru tidak hanya mengajar, namun sekarang guru harus menguasai sumber-sumber di mana anak-anak bisa belajar. Anak-anak bisa belajar dari mana saja, dan guru mengarahkan,” kata Muhadjir Effendy. Dengan kata lain guru berfungsi sebagai penghubung sumber belajar atau resorce linker.

Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. “Peran guru memfasilitasi, mencari narasumber yang relevan, siswa harus belajar dengan siapa, kemudian memerlukan fasilitas apa,” ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Selain itu, peran guru yang juga sangat penting adalah sebagai penjaga gawang informasi atau gate keeper. “Informasi mana yang membahayakan harus dibendung oleh guru. Ancaman kita semakin lama sangat besar, pengaruh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” kata Mendikbud menambahkan.

Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). “Mulai sekarang saya mohon kepada guru untuk mulai mempelajari dan menguasai materi yang tersedia di portal Kemendikbud, khususnya yang ada di dalam platform digital yaitu Rumah Belajar. Itu gratis tidak perlu membayar,” pesan Mendikbud.

Rumah belajar
Bersamaan dengan peluncuran program digitalisasi sekolah, di Jakarta digelar seminar tentang Rumah Belajar dalam pameran penyelia solusi dan produk teknologi pendukung pendidikan atau Global Educational Supplies and Solusion (GESS) Indonesia. Rumah Belajar merupakan portal pembelajaran yang menyediakan bahan belajar dan fasilitas komunikasi serta interaksi antarkomunitas pendidikan secara gratis. Rumah Belajar menjadi salah satu aplikasi yang akan mendukung program digitalisasi sekolah.

Seminar disampaikan oleh Purwanto, seorang Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Utama dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kemendikbud. Ia menjelaskan, Rumah Belajar merupakan open educational resources (OER) yang dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. “Rumah belajar itu merupakan jembatan untuk memasuki era pembelajaran di abad 21,” tambahnya lagi.

Rumah belajar ditujukan untuk siswa, guru, dan tenaga kependidikan serta masyarakat luas. Semua orang dapat mengakses portal ini secara daring dan lurin, tanpa harus berlangganan. Rumah Belajar dapat diakses melalui laman http://belajar.kemdikbud.go.id melalui PC (Personal Computer), laptop maupun ponsel pintar karena kini telah tersedia versi android yang bisa diunduh di Playstore.

Dalam fitur Rumah Belajar terdapat learning management system, di mana guru dan siswa dapat membuka kelas maya. Fitur tersebut memungkinkan antara guru dan siswa yang terkendala jarak geografis dapat tetap terhubung dan melakukan proses pembelajaran atau berdiskusi.

Peluang dan ancaman
Beberapa sekolah, kebanyakan sekolah swasta, cukup siap di-digitalisasikan. Lain halnya dengan sekolah negeri. Di sekolah negeri, karena minimnya pendapatan dana, di banyak sekolah, sekolah terpaksa menyerahkan permasalahan jaringan internet dan perangkat kepada masing masing siswa. Hal ini bukanlah hal yang bisa diterima oleh semua siswa, terutama orang tua. Mengapa? Karena bukan cuma-cuma, kuota harus dibeli, perangkat seperti handphone ataupun laptop juga harus dibeli. Persoalan ini menjadi salah satu tantangannya.

Tentu saja ada hal positif dan negatif dari program digitalisasi sekolah ini: hal postif sebagai peluang dan hal negatif sebagai ancaman dunia pendidikan.  Berikut ini hal-hal positif kehadiran internet dan program digitalisasi sekolah.
1.    Mudah mencari informasi dan pengetahuan. Dampak positif internet adalah semakin mudahnya penyebaran informasi bermanfaat yang bisa didapat secara real time. Dengan banyaknya media sosial, segala hal yang terjadi di berbagai belahan dunia bisa diunggah dan dijadikan berita. Beberapa detik atau bahkan menit suatu kejadian terjadi, kita sudah bisa mendapat update beritanya. Untuk kalangan pelajar, internet dan Google menjadi sumber referensi kedua setelah buku-buku pelajaran yang ada di sekolah maupun universitas. Pelajar bisa dengan mudah mencari materi yang bisa mendukung proses belajar. Youtube juga semakin memudahkan belajar melalui video edukasi.
2.    Media transaksi dan bisnis. Jika dulunya belanja hanya bisa dilakukan di toko fisik, sekarang zaman sudah berubah. Kehadiran internet membuat transaksi dan proses belanja menjadi lebih mudah karena bisa dilakukan melalui smartphone. Bayar juga tinggal transfer melalui online banking atau uang digital. Dalam hal ini, internet sangat memberi kemudahan bagi pihak penjual maupun pembeli. Pihak penjual tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa toko fisik demi menjual barang atau menawarkan jasanya. Pihak pembeli juga tidak perlu repot keluar rumah atau berkeliling dari toko ke toko untuk membeli barang yang diinginkan. Duduk saja di rumah, buka situs e-commerce, pilih barang yang diinginkan, bayar, dan tinggal tunggu barang datang. Simpel sekali.
Disamping membawa dampak positif, tentu harus diwaspadai dampak negatif internet,khususnya program digitalisasi sekolah ini; antara lain.
1.    Munculnya individualisme, dan berkembangnya sikap tech-holic. Digitalisasi yang tak terkendali akan memunculkan kembali sikap individualisme dalam jatidiri siswa, hal ini karena semua pekerjaan akan selesai hanya dengan bantuan teknologi, khususnya internet, diskusi yang seharusnya dilakukan untuk memecahkan kasus tertentu, digantikan dengan hadirnya browser yang mampu menjawab berbagai pertanyaan. Selain indivudualisme, tech-holic juga akan muncul dan berkembang. Tech-holic adalah kondisi dimana manusia tidak dapat dipisahkan dengan gadget dan kemajuan teknologi, apapun kondisinya.
2.    Konsumerisme dan hedonism. Konsumerisme dan hedonism tidak terpisahkan. Dimana ada yang tergila-gila untuk berbelanja, akan ada yang memanfaatkannya untuk keuntungan golongannya. Dalam kondisi ini, konsumen adalah para siswa yang dituntut untuk selalu update dalam bidang teknologi, dan kaum kapital nya adalah perusahaan(terutama perusahaan asing) yang menjual perangkat seperti HP dan laptop, ataupun yang menyediakan jaringan. Selain tuntutan mekanis untuk selalu memperbarui sistem perangkat, siswa juga memiliki tuntutan gengsi untuk selau tampil yang terdepan.
3.    Demoralisasi dan pengikisan ideologi. Digitalisasi dan modernisasi secara tidak langsung akan menyebabkan demoralisasi dan pengikisan ideologi, dalam kondisi ini adalah Pancasila. Berbagai rangkaian dari dampak negatif digitalisasi akan membawa pada individualism dan liberalism yang tidak sesuai dengan ideologi bangsa. Begitu pula dengan konsumerisme akut dan kapitalisme yang merajalela.

Seperti yang dipesankan oleh Mendikbud, program digitalisasi sekolah ini sama sekali tidak menggantikan proses belajar mengajar tatap muka dan harus dilaksanakan dalam pengawasan orang dan guru agar program ini membawa dampak positif bagi siswa. Yang pasti, kehadiran teknologi internet tidak ada yang bisa membendungnya.***

Edi Petebang, Anggota Dewan Pendidikan Kalbar

Share.

Leave A Reply